Wisata

Hutan Pinus Imogiri yang Fotogenic

Jika membahas tentang wisata alam di Yogyakarta, maka tidak akan ketinggalan untuk membahas hutan pinus yang ada di Imogiri. Lebih tepatnya berada di kawasan Hutan Pinus Dlingo. Nah, tempat ini juga pernah dikunjungi oleh mantan presiden Amerika, Barack Obama. Dan tidak heran jika tempat ini menjadi sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Karena memang ditempat ini menawarkan banyak sekali spot yang menarik. Kebanyakan pengunjung memang akan mencari foto di tempat wisata ini, namun selain foto tempat ini akan sangat nyaman untuk merasakan asrinya udara desa dan rindangnya hutan pinus.

Tempat wisata ini juga temasuk cukup murah. Tiket masuk dengan kisaran harga Rp 4000 untuk satu orang dan parkir kendaraan Rp 2000 untuk motor dan Rp 4000 untuk mobil. Jadi para pengunjung tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Dengan harga yang tidak mahal, para pengunjung akan mendapatkan pemandangan yang sangat bagus dan unik. Banyak sekali spot foto yang ditawarkan ditempat wisata ini.

Nah, berikut ini adalah sebagian kecil dari spot foto di hutan pinus Dlingo, Yogyakarta.

  1. Foto di Taman Bunga

Diarea hutan pinus ini juga terdapat taman bunga yag bisa dijadikan spot foto. Ada 2 tempat yang bisa dijadikan tempat foto. Pertama berada di luar atau dipinggir jalan dan yang kedua berada dipuncak dari hutan pinus.

  1. Foto dengan Hammock

Saat berkunjung ke wisata ini, para pengunjung bisa menyewa hammock untuk berfoto. Untuk biaya per hammock mula dari Rp 10.000 hingga Rp 20.000. Selain itu juga terdapat hammock dengan tinggi 4 meter.

  1. Foto di rumah hobbit

Tempat ini sekarang menjadi sangat banyak dibicarakan di media sosial. Karena memang rumah hobbit di hutan pinus Imogiri sangat unik. Saat pengunjung masuk akan melihat rumah dengan model kecil yang berjejer dengan rapinya. Dengan bagunan yang terbuat dari kayu dan peletakan yang pas, membuat para pengunjung bisa berfoto dengan hasil yang sangat memuaskan. Mengabadikan moment bersama keluarga, sahabat maupun pasangan, bisa juga foto prewedding di tempat ini.

Mengintip Pesona Pura Pakualaman yang Terlupakan

Pada abad ke 17 di pulau Jawa berdiri sebuah kerajaan Islam yang besar dan disegani yaitu Kerajaan Mataram Islam yang beribu kota di Kotagede, Yogyakarta. Dengan berjalannya waktu  kerajaan tersebut mengalami pasang surut mulai dari masa keemasan di zaman Sultan Agung Tirtayasa hingga akhirnya harus terpecah belah karena perebutan kekuasaan yang tiada henti serta kuatnya pengaruh dari Hindia Belanda yang mampu memanfaatkan kekacaan politik di kerajaan tersebut dengan baik.

Setelah terpecah belah, Kerajaan Maratam Islam terbagi menjadi 2 bagian yaitu Kraton Surakarta Hadiningrat, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat kemudian pecah lagi menjadi Pura Mangkunegran, dan  juga Pura Paku Alaman. Di Yogyakarta sendiri terdapat dua kraton yaitu Kraton Yogyakarta dan Kraton Paku Alaman yang masih bertahan hingga sekarang. Kedua kraton tersebut merupakan saksi sejarah dari perkembangan Yogyakarta dari zaman ke zaman.

Kraton yang terbesar tentu saja Kraton Yogyakarta kemudian ada Kraton Paku Alaman yang berstatus kadipaten atau setingkat kabupaten. Kraton atau Pura Pakualaman sendiri pamornya tidak sepopuler saudara tuanya, Kraton Yogyakarta. Walau begitu kraton ini tetap mempesona dan menyimpan berbagai macam sejarah maupun kisah yang sayang untuk dilewatkan bagi para wisatawan yang sedang berkunjung ke Yogyakarta dan ingin menikmati sejarah masa lalu dari provinsi ini.

Komplek Kraton Paku Alaman lebih kecil dan lebih sederhana dibandingkan dengan saudara tuanya. Di depan kraton juga terdapat sebuah alun-alun kecil yang juga terdapat pohon beringin. Setiap hari alun-alun ini digunakan untuk wisata kuliner masyarakat sekitar. Memasuki komplek kraton, pengunjung akan melihat sebuah taman yang indah dan juga kolam yang ditumbuhi oleh bunga teratai. Keunikan dari kraton ini adalah Pura Pakualaman menghadap ke selatan sebagai penghormatan kepada Kraton Yogyakarta yang berdiri telebih dahulu.

Di belakang kolam terdapat sebuah bangunan yaitu Bangsal Sewotomo sebagai tempat untuk menyimpan seperangkat gamelan yang diberi nama gamelan Kebogiro. Setiap Minggu Pon, pengunjung bisa datang untuk mendengar para penabuh memainkan gamelan ini. Di kompleks Pura Pakualaman juga terdapat bangunan-bangunan lain seperti Dalem Ageng Proboyeksa dengan arsitektur dengan gaya Jawa yang indah. Ada juga Bangsal Sewarengga, Gedung Maerakaca, dan masih banyak lagi bangunan lainnya.